Berburu Lowongan Kerja, Banyak Terliminasi Sebelum Nominasi

WARTA6

Senin, 14 Juli 2025 - 21:45

50194 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Rahmi Surainah, M.Pd alumni Pascasarjana Unlam Banjarmasin

Baru lulus sekolah atau kuliah (fresh graduate)? Mau bekerja, salah satu syaratnya harus punya pengalaman atau keahlian. Akibatnya banyak yang tereliminasi sebelum nominasi. Inilah tantangan dalam mencari kerja di era globalisasi saat ini.

Peluang pekerjaan sudah ditawarkan Job Market Fair di Kota Samarinda. Digelar oleh Disnaker Kota Samarinda beberapa waktu di Hotel Mercure. Acara ini dihadiri lebih dari 2.100 pelamar pada hari pertama, menunjukkan antusias tinggi. Sebanyak 35 perusahaan membuka 785 lowongan kerja kepada masyarakat lokal dan luar daerah. Namun mayoritas lowongan mensyaratkan pengalaman kerja, jadi fresh graduate menghadapi hambatan nyata.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fresh graduate cukup dominan di antara peserta, sekitar 60 % pelamar berstatus baru lulus S1 atau SMK/SMA. Mereka berharap mendapat akses masuk ke sektor formal seperti perbankan, pendidikan, atau administrasi. Ibu rumah tangga (IRT) juga turut hadir, berkeinginan membantu ekonomi keluarga sambil tetap menjaga anak kecil di rumah. Namun lokasi kerja yang jauh atau tidak fleksibel menjadi kendala signifikan bagi IRT. Dengan cakupan pengalaman minim dan keterbatasan waktu, peluang IRT menjadi terbatas.

Pemerintah kota dan DPRD memberi apresiasi agar kegiatan ini terus dikembangkan secara berkala. DPRD menyoroti pentingnya inklusivitas dan kuota khusus bagi difabel yang saat ini masih minim. Dinas Tenaga Kerja berharap platform serupa mempertemukan pelamar lokal dengan perusahaan secara efektif dan transparan. Laporan resmi proses seleksi juga telah ditekankan agar tersedia, termasuk data pelamar dan jumlah yang diterima. Upaya kolaborasi lintas sektoral dianggap kunci menekan angka pengangguran terbaru di Samarinda. (Tribunkaltim.co, 29/6/2025)

Negara Gagal Ciptakan Lapangan Kerja

Fresh graduate adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang baru saja menyelesaikan pendidikan tinggi (diploma atau sarjana) dan belum memiliki pengalaman kerja yang signifikan. Jumlah fresh graduate tentu banyak apalagi baru saja kelulusan tingkat sekolah dan perguruan tinggi.

Tidak hanya fresh graduated, jumlah pekerja perempuan saat ini juga melebihi pekerja laki-laki. Para perempuan terlibat dalam pekerja formal, baik tingkat daerah, nasional maupun internasional.

Kondisi ketenagakerjaan di Kalimantan Timur (Kaltim) sendiri dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025 masih menunjukkan dominasi pekerja formal. 49,16 persen penduduk bekerja di Kaltim tercatat sebagai buruh, karyawan, atau pegawai.

Pada Februari 2025, sektor informal menyerap 943.098 pekerja atau 46,92 persen dari total tenaga kerja. Kemudian pekerja formal masih mendominasi dengan jumlah 1.066.892 orang atau 53,08 persen. Dibandingkan Februari tahun 2024 lalu, proporsi pekerja informal mengalami kenaikan sebesar 0,05 persen poin. Sedangkan pekerja formal mengalami penurunan dalam proporsi yang sama.

Berdasarkan tingkat pendidikan, mayoritas pekerja merupakan lulusan SMA umum (28,39 persen). Pekerja berpendidikan Diploma (3,84 persen) dan Universitas (13,67 persen) masih tergolong rendah. Sementara itu, buruh/karyawan/pegawai mendominasi status pekerjaan sebesar 49,16 persen, disusul pekerja sektor informal. Pekerja bebas di pertanian menjadi yang paling sedikit, hanya 0,99 persen.

Data berupa angka tersebut yang terdata, bagaimana yang tidak terdata? Pekerja informal lebih diminati bahkan dunia maya dan luar negeri lebih menjanjikan. Pertanian tak diminati. Tenaga kerja impor, sebaliknya tenaga ahli dan pencari kerja dalam negeri tak dihargai. PHK demi efisiensi pun tak dapat dihindari.

Memang pengangguran dan PHK meningkat penyebabnya multifaktor dan kompleks sehingga tidak tertangani dengan benar. Selain itu pekerjaan hanya dilihat dari sektor pertambangan, padahal banyak potensi yang lain tapi tidak tertarik. Saat ini pemerintah terkesan hanya sebagai regulator dan jembatan perusahaan sehingga sekolah pun sejalan dengan kebutuhan dunia kerja. Pendidikan hanya sebatas mencetak buruh pasar dan siap pakai.

Pengangguran bahkan PHK menunjukkan gagalnya negara dalam mengurus dan menjamin pekerjaan bagi rakyat. Perusahaan tentu tidak mau rugi dan disalahkan karena pertimbangannya komoditi. Wajar banyaknya keberadaan perusahaan khususnya tambang tidak berkorelasi dengan kesejahteraan masyarakat.

Seharusnya negara yang bertanggung jawab menciptakan pekerjaan. Diawali dengan sistem pendidikan menciptakan skill sehingga pekerja lokal tidak hanya menjadi buruh kasar. Negara seharusnya mengelola tambang untuk ciptakan lapangan pekerjaan bukan diserahkan kepada perusahaan.

Selain itu, negara bisa memberikan modal dan support sistem termasuk pemberian lahan untuk bertani sehingga lapangan kerja dan swasembada tercapai. Namun sayang negara dalam sistem kapitalisme saat ini membuat SDM yang terlahir dari dunia pendidikan hanya bermental pekerja atau buruh.

Negara pun andil dalam menciptakan pengangguran karena banyaknya serapan tenaga asing yang masuk. Pemerintah seakan tidak percaya dengan kualitas anak negeri. Akhirnya tidak sedikit anak negeri yang bekerja di luar. Satu sisi pemerintah memberi solusi pengangguran namun di sisi lain menciptakan pengangguran. Andai melibatkan pihak ketiga untuk mengurangi pengangguran tentu sesuai dengan standar mereka buruh murah alias eksploitasi SDM.

Islam Selesaikan Pengangguran

Hal itu sangat berbeda dengan solusi Islam dalam menyelesaikan pengangguran. Mekanisme yang dilakukan Khalifah dalam mengatasi pengangguran dan menciptakan lapangan kerja secara garis besar dilakukan dengan dua mekanisme, yaitu mekanisme individu dan sosial ekonomi.

Dalam mekanisme individu, Khalifah secara langsung memberikan pemahaman kepada individu, terutama melalui sistem pendidikan, tentang wajibnya bekerja bagi laki-laki dan kedudukan orang-orang yang bekerja di hadapan Allah Swt., Negara juga memberikan keterampilan dan modal bagi mereka yang membutuhkan.

Imam Ahmad & Tirmidzi mengeluarkan hadits yang mengisahkan bahwa ada seorang pria Anshor yang mendatangi Nabi saw. Karena kesulitan ekonomi. Nabi saw. Lalu bertanya kepadanya, “Apakah ada sesuatu (yang bisa engkau jual) di rumahmu?” Pria itu menjawab, “Ada…”

Nabi berkata lagi, “Datanglah kepadaku dengan dua barang itu.” Lalu ia mendatangi Rasulullah saw. Sembari membawa dua barang dari rumahnya. Kemudian Nabi saw. Mengambil keduanya dan berkata kepada khalayak, “Siapa yang mau membeli dua barang ini?” Seseorang lalu menjawab, “Aku mengambilnya dengan harga 2 dirham!”

Serah terima lalu terjadi dan Rasulullah saw. Menyerahkan uang dua dirham hasil penjualan tadi kepada lelaki Anshor tadi sambil berkata, “Belikanlah sesuatu dengan satu dirham dan berikanlah kepada keluargamu, dan belikanlah kapak dengan satu dirham lalu datanglah kepadaku!”

Laki-laki itu kemudian mendatangi Rasulullah saw. Dengan membawa kapak. Nabi saw. Memegang kapak itu erat-erat dan berkata, “Pergi dan carilah kayu bakar lalu juallah, dan janganlah aku melihatmu dalam waktu 15 hari.” Orang tersebut kemudian melakukan apa yang diminta Nabi saw. Sampai kemudian ia datang lagi dan sudah membawa uang sebanyak 10 dirham hasil penjualan kayu bakar.

Apa yang dilakukan Nabi Saw dalam kisah tersebut memberikan sejumlah pelajaran berharga, yakni Islam mendorong seorang muslim untuk struggle mencari nafkah. Pria anshor yang mendatangi Nabi Saw. Diperintahkan untuk menjual barang yang dia punya sebagai nafkah keluarga dan modal usaha yaitu membeli kapak.

Selanjutnya, wanita dalam Islam tidak diwajibkan bekerja, tugas utamanya adalah sebagai ibu dan manajer rumah tangga. Kondisi ini akan menghilangkan persaingan antara tenaga kerja wanita dan laki-laki.

Demikianlah mekanisme Islam tatkala diterapkan negara. Pengangguran mudah diatasi dan lapangan kerja tercipta secara adil. Tentu semua hal tersebut akan terwujud manakala sistem Islam diterapkan dalam institusi negara.
Wallahu’alam

Berita Terkait

Tangkap Paiman Raharjo, Batasi Media Ancaman Bagi Demokrasi
Kritik Konstruktif untuk Pemerintah Abdya: Arah Baru Abdya Maju Jangan Hanya Slogan

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 11:27

Kepala Rutan Tarutung Tegaskan Zero Narkoba, Penipuan Online, dan Judol di Dalam Rutan

Minggu, 19 April 2026 - 02:18

Halalbihalal Satgas DPD IPK Kota Medan Digelar Sukses dan Meriah, Perkuat Soliditas Kader

Sabtu, 18 April 2026 - 08:16

GRANAT Apresiasi Kinerja Polda Riau, Ketua Umum: Prestasi Spektakuler Selamatkan Generasi Bangsa

Jumat, 17 April 2026 - 14:14

Pokdarkamtibmas Bhayangkara Sumut Dukung Langkah BNN Dorong Pelarangan Total Peredaran Vape di Indonesia

Kamis, 16 April 2026 - 23:58

Koperasi Desa Mau Naik Kelas: Bukan Sekadar Simpan Pinjam, Tapi Pusat Ekonomi Warga

Kamis, 16 April 2026 - 13:46

Tahu dan Tempe Rutan Kelas I Medan Laris Diborong pada Semarak Bazar Produk WBP Peringatan HBP ke-62 Kanwil Ditjenpas Sumut

Kamis, 16 April 2026 - 11:37

Lapas Sibolga Deklarasikan Komitmen Anti Narkoba, Pungli, dan Handphone Ilegal

Kamis, 16 April 2026 - 11:23

Polda Riau Kukuhkan 23 Duta Anti Narkoba, Kapolda: Panipahan Jadi ‘Wake-Up Call’ Bersama

Berita Terbaru